Sections
Archive
| Su | Mo | Tu | We | Th | Fr | Sa | |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 2 | 3 | 4 | ||||
| 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | |
| 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | |
| 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | |
| 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | |||

AIR merupakan aset bersama yang harus dapat kita wariskan kepada generasi penerus. Peran air begitu penting dalam kehidupan sehari-hari. Tak dapat dibayangkan, jika pada suatu masa kita kekurangan atau bahkan kehilangan air dan sumber daya air.
Namun, dalam beberapa dekade terakhir ini, kondisi sumber daya air di Indonesia semakin menjadi rentan dari erosi dan kerusakan. Bencana demi bencana, seperti banjir, longsor, kekeringan, maupun pencemaran, dan bencana alam lainnya terkait air. Ini menunjukkan, telah terjadi peningkatan besaran permasalahan menyangkut air dan sumber daya air, baik secara kuantitas maupun kualitas.
Kalau kondisi tersebut dibiarkan terus berlangsung, secara perlahan tapi pasti, kita akan dihadapkan kepada masalah-masalah air yang semakin serius. ”Semua permasalahan yang tengah kita hadapi itu, tentunya hampir mustahil bila ditangani sendiri oleh pemerintah. Perlu ada keterlibatan partisipasi aktif dan dukungan masyarakat,” kata Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air (Puslitbang SDA), Balitbang Departemen Pekerjaan Umum, Ir. Eddy A. Djajadiredja, Dipl.H.E., saat ditemui di ruang kerjanya belum lama ini.
Menurutnya, selama ini kita hanya dapat memanfaatkan air, namun tidak mampu untuk memelihara dan melestarikannya. Padahal, air merupakan unsur terpenting dalam kehidupan ini. Di beberapa daerah, kekurangan air yang juga seiring dengan sanitasi yang tidak memadai dan buruknya pengendalian pencemaran, telah menyebabkan timbulnya berbagai penyakit dan ketegangan sosial. "Yang paling merasakan dampaknya adalah mereka yang kekurangan dan terbatasnya akses ke sarana penyediaan air," kata Eddy.
Salah satu upaya penanggulangan permasalahan tersebut adalah dengan melakukan konservasi air. Konservasi air merupakan upaya komprehensif dalam mengamankan, melestarikan air dan sumber daya air, lingkungan ekosistem terkait, serta usaha-usaha penghematan konsumsi air. Namun demikian, usaha strategis itu akan selalu berbenturan dengan berbagai kendala dan permasalahan yang diakibatkan masih rendahnya kesadaran, kepedulian, dan partisipasi masyarakat secara integral. "Kenyataan ini membuktikan masih banyak yang belum menyadari bahwa kita sekarang ini tengah menghadapi berbagai permasalahan ketersediaan air. Kalau disebut cukup sih ya cukup, tapi kan permasalahannya adalah kita ini hanya bisa memanfaatkannya saja namun tidak mampu melestarikannya," ujarnya.
Di berbagai tempat, air menjadi sumber daya yang semakin langka, tapi pada saat yang bersamaan digunakan dengan boros. Jika pola penggunaan air yang sekarang ini tidak diubah, maka dalam beberapa dekade ke depan, sebagian besar dari kita akan hidup dalam kondisi kekurangan air. Air bersih sebagai kebutuhan dasar pun menjadi semakin langka. Oleh karena itu, konservasi air merupakan suatu cara untuk mengurangi beban terhadap sumber daya air dan mempertahankan ketersediaannya.
Dari kegiatan konservasi air ini, termasuk pengenalan teknologi tepat guna hemat air dalam pertanian dan industri, pemanfaatan kembali air limbah, program pengurangan kehilangan air, dan kampanye peningkatan kesadaran masyarakat, dapat menghasilkan penghematan air yang diperlukan. "Dari penghematan dan penggunaan air secara rasional ini, hasilnya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang kekurangan yang tidak memiliki akses ke sarana penyediaan air yang ada," ucap lelaki kelahiran Jakarta, 10 Mei 1951 ini.
Untuk mencapai kondisi tersebut, gerakan kampanye peningkatan kesadaran masyarakat tentang konservasi air hendaknya terus dilakukan secara berkesinambungan. Sehingga akan tumbuh kesadaran, dari semula tidak tahu menjadi sadar. Selanjutnya adalah menumbuhkan minat untuk selalu mencari solusi, juga membangun rasa keinginan merubah perilaku. Perubahan perilaku ini akan lebih efektif dengan adanya tanggapan (feed back) dari masyarakat, umpamanya soal kelangkaan air. "Tak kalah pentingnya adalah mengenalkan kegiatan konservasi air ini kepada anak-anak. Dari sejak kecil mereka sudah dapat mengenal soal-soal teknis terkait air, seperti sifat-sifat air, juga mengenai ekosistem lingkungan. Kesadaran untuk mencintai air hendaknya sudah ditumbuhkan sejak dini," kata Eddy yang lulusan Teknik Sipil ITB tahun 1977.
Air merupakan salah satu inti dari pendidikan lingkungan. Air dan siklus hidrologi akan mempertahankan kehidupan dan membentuk lingkungan. Dengan mendidik anak-anak dan siswa sekolah semua tingkatan, berarti mendidik masyarakat masa depan untuk menumbuhkan perilaku yang mendukung usaha-usaha pelestarian sumber daya alam, termasuk air. Kurikulum formal maupun informal di sekolah bisa dijadikan sebagai media pendidikan lingkungan. Sarana lainnya dalam upaya peningkatan kesadaran konservasi air yakni melalui gambar, poster, pamflet, praktIk langsung, dan sebagainya. "Sangat penting menumbuhkan sikap mencintai air sejak anak-anak. Jika sejak dini sudah ada perilaku yang bijaksana dalam penggunaan air, diharapkan kelak mereka bisa menjalankan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-hari," tambahnya.
Peran Pusair
Menyinggung tentang peran dan keberadaan lembaga yang dipimpinnya, yang pada tahun depan akan memasuki usia 70 tahun, Eddy menuturkan, pihaknya senantiasa mengembangkan kegiatan riset untuk menciptakan produk litbang sumber daya air yang aplikatif, inovatif, dan kompetitif. Dalam melakukan kegiatan riset tidak boleh takut salah atau takut gagal. Selalu ada tantangan intelektualitas untuk mengembangkan dan mencari alternatif penggunaan energi yang selama ini sudah ada. "Selain dapat dimanfaatkan untuk dunia pertanian dan industri, potensi sumber daya alam pun dapat dimanfaatkan sebagai energi pembangkit tenaga listrik," tuturnya.
Juga menjadikan lembaga ini sebagai pusat data dan informasi menyangkut sumber daya air. Menurutnya, data sangat penting dalam menentukan kebijakan dan program yang akan dilakukan. Pengelolaan manajemen data dan informasi yang baik akan menghasilkan suatu pijakan, misalnya dalam penciptaan produk-produk teknologi tepat guna terkait pemanfaatan dan pelestarian sumber daya air. "Jangan ada kesan bahwa suatu lembaga litbang itu seolah berada di awang-awang tidak menapak di bumi. Tapi hendaknya kita bangun suatu pemahaman bahwa hasil-hasil puslitbang dapat dirasakan manfaatnya secara optimal," kata mantan Direktur Sumber Daya Air Wilayah Timur 2002-2005 ini.
Peneliti, harus membumi
Pun demikian dengan peran para peneliti, hendaknya mereka tidak terlalu asyik dengan penelitiannya sendiri. Para peneliti harus mampu memberi kontribusi positif bagi pemecahan suatu masalah keairan yang tengah dihadapi. Advis teknis yang ada dan teknologi tepat guna yang dihasilkan, harus bisa dimanfaatkan dengan mudah, baik di desa maupun di kota, atau juga yang diaplikasikan di dunia pertanian dan industri. Salah satu visinya yakni teknologi yang dapat menghemat penggunaan air dan melestarikan sumber daya air.
Tugas para peneliti tidaklah pernah mengenal kata selesai. Selalu ada langkah berikutnya yaitu monitoring, evaluasi, supervisi, dan perbaikan. Hal ini guna mencapai optimalisasi produk teknologi tepat guna yang bermanfaat bagi masyarakat. "Peneliti juga harus mampu dan mempunyai peluang untuk menyampaikan hasil-hasil penelitiannya, baik di media jurnal ilmiah, media massa, maupun media lainnya," imbuhnya.
Berkaitan dengan hal tersebut Puslitbang Sumber Daya Air melakukan kegiatan kolokium hasil-hasil litbang sumber daya air tahun 2004, pameran, dan open house. Menurut Eddy, kegiatan yang baru saja berlangsung dua hari kemarin (Selasa-Rabu 29-30/11) itu, dimaksudkan untuk mewujudkan infrastruktur dan teknologi sumber daya air yang handal, bermanfaat, dan berkelanjutan. Bertujuan meningkatkan pemahaman terhadap permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan sumber daya air di Indonesia. Juga penyebarluasan hasil litbang, ajang tukar pikiran antara peneliti, pengambil kebijakan, akademisi, dan praktisi lainnya dalam rangka pengelolaan sumber daya air.
Dalam kolokium yang juga dalam rangka Hari Bakti Pekerjaan Umum ke-60 tersebut terdapat 54 makalah hasil litbang sumber daya air. Hasil-hasil litbang itu tercakup dalam tiga tema yakni Kebijakan dan Perencanaan, Konservasi, Pengendalian dan Penggunaan Sumber Daya Air; Desain dan Uji Mutu Teknologi Konstruksi Bangunan Air; serta Operasi, Pemeliharaan dan Evaluasi Manfaat Bangunan dan Sumber Air. Kegiatan ini pun mengundang pula sejumlah sekolah (SMP dan SMA) yang berlokasi di sekitar kantor Puslitbang Sumber Daya Air.
"Sumber daya air perlu dikelola secara optimal dan berkesinambungan. Pengelolaannya sangat tergantung pada kondisi infrastruktur dan teknologi sumber daya air. Agar dapat keluar dari krisis air menuju masa depan yang lebih baik, dibutuhkan upaya terpadu dari seluruh stakeholder dalam satu lingkup jaringan kerja secara nasional," kata Eddy.
Oleh:
Ir. Eddy A. Djajadiredja, Dipl.HE.
Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air
Namun, dalam beberapa dekade terakhir ini, kondisi sumber daya air di Indonesia semakin menjadi rentan dari erosi dan kerusakan. Bencana demi bencana, seperti banjir, longsor, kekeringan, maupun pencemaran, dan bencana alam lainnya terkait air. Ini menunjukkan, telah terjadi peningkatan besaran permasalahan menyangkut air dan sumber daya air, baik secara kuantitas maupun kualitas.
Kalau kondisi tersebut dibiarkan terus berlangsung, secara perlahan tapi pasti, kita akan dihadapkan kepada masalah-masalah air yang semakin serius. ”Semua permasalahan yang tengah kita hadapi itu, tentunya hampir mustahil bila ditangani sendiri oleh pemerintah. Perlu ada keterlibatan partisipasi aktif dan dukungan masyarakat,” kata Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air (Puslitbang SDA), Balitbang Departemen Pekerjaan Umum, Ir. Eddy A. Djajadiredja, Dipl.H.E., saat ditemui di ruang kerjanya belum lama ini.
Menurutnya, selama ini kita hanya dapat memanfaatkan air, namun tidak mampu untuk memelihara dan melestarikannya. Padahal, air merupakan unsur terpenting dalam kehidupan ini. Di beberapa daerah, kekurangan air yang juga seiring dengan sanitasi yang tidak memadai dan buruknya pengendalian pencemaran, telah menyebabkan timbulnya berbagai penyakit dan ketegangan sosial. "Yang paling merasakan dampaknya adalah mereka yang kekurangan dan terbatasnya akses ke sarana penyediaan air," kata Eddy.
Salah satu upaya penanggulangan permasalahan tersebut adalah dengan melakukan konservasi air. Konservasi air merupakan upaya komprehensif dalam mengamankan, melestarikan air dan sumber daya air, lingkungan ekosistem terkait, serta usaha-usaha penghematan konsumsi air. Namun demikian, usaha strategis itu akan selalu berbenturan dengan berbagai kendala dan permasalahan yang diakibatkan masih rendahnya kesadaran, kepedulian, dan partisipasi masyarakat secara integral. "Kenyataan ini membuktikan masih banyak yang belum menyadari bahwa kita sekarang ini tengah menghadapi berbagai permasalahan ketersediaan air. Kalau disebut cukup sih ya cukup, tapi kan permasalahannya adalah kita ini hanya bisa memanfaatkannya saja namun tidak mampu melestarikannya," ujarnya.
Di berbagai tempat, air menjadi sumber daya yang semakin langka, tapi pada saat yang bersamaan digunakan dengan boros. Jika pola penggunaan air yang sekarang ini tidak diubah, maka dalam beberapa dekade ke depan, sebagian besar dari kita akan hidup dalam kondisi kekurangan air. Air bersih sebagai kebutuhan dasar pun menjadi semakin langka. Oleh karena itu, konservasi air merupakan suatu cara untuk mengurangi beban terhadap sumber daya air dan mempertahankan ketersediaannya.
Dari kegiatan konservasi air ini, termasuk pengenalan teknologi tepat guna hemat air dalam pertanian dan industri, pemanfaatan kembali air limbah, program pengurangan kehilangan air, dan kampanye peningkatan kesadaran masyarakat, dapat menghasilkan penghematan air yang diperlukan. "Dari penghematan dan penggunaan air secara rasional ini, hasilnya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang kekurangan yang tidak memiliki akses ke sarana penyediaan air yang ada," ucap lelaki kelahiran Jakarta, 10 Mei 1951 ini.
Untuk mencapai kondisi tersebut, gerakan kampanye peningkatan kesadaran masyarakat tentang konservasi air hendaknya terus dilakukan secara berkesinambungan. Sehingga akan tumbuh kesadaran, dari semula tidak tahu menjadi sadar. Selanjutnya adalah menumbuhkan minat untuk selalu mencari solusi, juga membangun rasa keinginan merubah perilaku. Perubahan perilaku ini akan lebih efektif dengan adanya tanggapan (feed back) dari masyarakat, umpamanya soal kelangkaan air. "Tak kalah pentingnya adalah mengenalkan kegiatan konservasi air ini kepada anak-anak. Dari sejak kecil mereka sudah dapat mengenal soal-soal teknis terkait air, seperti sifat-sifat air, juga mengenai ekosistem lingkungan. Kesadaran untuk mencintai air hendaknya sudah ditumbuhkan sejak dini," kata Eddy yang lulusan Teknik Sipil ITB tahun 1977.
Air merupakan salah satu inti dari pendidikan lingkungan. Air dan siklus hidrologi akan mempertahankan kehidupan dan membentuk lingkungan. Dengan mendidik anak-anak dan siswa sekolah semua tingkatan, berarti mendidik masyarakat masa depan untuk menumbuhkan perilaku yang mendukung usaha-usaha pelestarian sumber daya alam, termasuk air. Kurikulum formal maupun informal di sekolah bisa dijadikan sebagai media pendidikan lingkungan. Sarana lainnya dalam upaya peningkatan kesadaran konservasi air yakni melalui gambar, poster, pamflet, praktIk langsung, dan sebagainya. "Sangat penting menumbuhkan sikap mencintai air sejak anak-anak. Jika sejak dini sudah ada perilaku yang bijaksana dalam penggunaan air, diharapkan kelak mereka bisa menjalankan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-hari," tambahnya.
Peran Pusair
Menyinggung tentang peran dan keberadaan lembaga yang dipimpinnya, yang pada tahun depan akan memasuki usia 70 tahun, Eddy menuturkan, pihaknya senantiasa mengembangkan kegiatan riset untuk menciptakan produk litbang sumber daya air yang aplikatif, inovatif, dan kompetitif. Dalam melakukan kegiatan riset tidak boleh takut salah atau takut gagal. Selalu ada tantangan intelektualitas untuk mengembangkan dan mencari alternatif penggunaan energi yang selama ini sudah ada. "Selain dapat dimanfaatkan untuk dunia pertanian dan industri, potensi sumber daya alam pun dapat dimanfaatkan sebagai energi pembangkit tenaga listrik," tuturnya.
Juga menjadikan lembaga ini sebagai pusat data dan informasi menyangkut sumber daya air. Menurutnya, data sangat penting dalam menentukan kebijakan dan program yang akan dilakukan. Pengelolaan manajemen data dan informasi yang baik akan menghasilkan suatu pijakan, misalnya dalam penciptaan produk-produk teknologi tepat guna terkait pemanfaatan dan pelestarian sumber daya air. "Jangan ada kesan bahwa suatu lembaga litbang itu seolah berada di awang-awang tidak menapak di bumi. Tapi hendaknya kita bangun suatu pemahaman bahwa hasil-hasil puslitbang dapat dirasakan manfaatnya secara optimal," kata mantan Direktur Sumber Daya Air Wilayah Timur 2002-2005 ini.
Peneliti, harus membumi
Pun demikian dengan peran para peneliti, hendaknya mereka tidak terlalu asyik dengan penelitiannya sendiri. Para peneliti harus mampu memberi kontribusi positif bagi pemecahan suatu masalah keairan yang tengah dihadapi. Advis teknis yang ada dan teknologi tepat guna yang dihasilkan, harus bisa dimanfaatkan dengan mudah, baik di desa maupun di kota, atau juga yang diaplikasikan di dunia pertanian dan industri. Salah satu visinya yakni teknologi yang dapat menghemat penggunaan air dan melestarikan sumber daya air.
Tugas para peneliti tidaklah pernah mengenal kata selesai. Selalu ada langkah berikutnya yaitu monitoring, evaluasi, supervisi, dan perbaikan. Hal ini guna mencapai optimalisasi produk teknologi tepat guna yang bermanfaat bagi masyarakat. "Peneliti juga harus mampu dan mempunyai peluang untuk menyampaikan hasil-hasil penelitiannya, baik di media jurnal ilmiah, media massa, maupun media lainnya," imbuhnya.
Berkaitan dengan hal tersebut Puslitbang Sumber Daya Air melakukan kegiatan kolokium hasil-hasil litbang sumber daya air tahun 2004, pameran, dan open house. Menurut Eddy, kegiatan yang baru saja berlangsung dua hari kemarin (Selasa-Rabu 29-30/11) itu, dimaksudkan untuk mewujudkan infrastruktur dan teknologi sumber daya air yang handal, bermanfaat, dan berkelanjutan. Bertujuan meningkatkan pemahaman terhadap permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan sumber daya air di Indonesia. Juga penyebarluasan hasil litbang, ajang tukar pikiran antara peneliti, pengambil kebijakan, akademisi, dan praktisi lainnya dalam rangka pengelolaan sumber daya air.
Dalam kolokium yang juga dalam rangka Hari Bakti Pekerjaan Umum ke-60 tersebut terdapat 54 makalah hasil litbang sumber daya air. Hasil-hasil litbang itu tercakup dalam tiga tema yakni Kebijakan dan Perencanaan, Konservasi, Pengendalian dan Penggunaan Sumber Daya Air; Desain dan Uji Mutu Teknologi Konstruksi Bangunan Air; serta Operasi, Pemeliharaan dan Evaluasi Manfaat Bangunan dan Sumber Air. Kegiatan ini pun mengundang pula sejumlah sekolah (SMP dan SMA) yang berlokasi di sekitar kantor Puslitbang Sumber Daya Air.
"Sumber daya air perlu dikelola secara optimal dan berkesinambungan. Pengelolaannya sangat tergantung pada kondisi infrastruktur dan teknologi sumber daya air. Agar dapat keluar dari krisis air menuju masa depan yang lebih baik, dibutuhkan upaya terpadu dari seluruh stakeholder dalam satu lingkup jaringan kerja secara nasional," kata Eddy.
Oleh:
Ir. Eddy A. Djajadiredja, Dipl.HE.
Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air




News
Lifestyle
bernie ft nurinda ft eka agnestya

