Sections
Archive
| Su | Mo | Tu | We | Th | Fr | Sa | |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 2 | 3 | 4 | ||||
| 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | |
| 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | |
| 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | |
| 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | |||

Dibilang ironis karena pergantian musim itu sesungguhnya adalah proses alam yang sejak dulu bergulir di muka bumi ini. Di negara lain malah ada yang sampai empat musim. Setiap periode diantisipasi dengan baik karena memang sudah rutin terjadi. Di negeri ini, dua musim identik dengan dua jenis musibah.
Ketika datang musim hujan, di banyak wilayah Nusantara langsung digenangi banjir. Bahkan, acap kali meluap-luap hingga menimbulkan korban. Lalu, ketika musim berganti, datang bencana lain yang tak kalah mengenaskan: tanah-tanah di berbagai sudut Tanah Air kering kerontang.
Kali ini, musim kemarau itu pun datang sambil menebar ancaman yang lagi-lagi belum mampu diantisipasi secara maksimal. Lihat saja data yang ditunjukkan Departemen Pekerjaan Umum. Tercatat 35 dari 48 kabupaten di Jawa terkena kekeringan parah.
Budi Yuwonmo, Dirjen Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum, mengatakan, wilayah yang kekeringan parah itu meliputi 12 kabupaten di Jawa Timur, 12 kabupaten di Jawa Tengah, 8 kabupaten di Jawa Barat, dan tiga kabupaten di DI Yogyakarta.
"Untuk desa-desa yang kesulitan air seperti di Losarang, pemerintah telah menyiapkan mobil tangki air minum dan unit terminal air (UTA) langsung ke lokasi," kata Budi.
Selama ini, kekeringan ditangani pemerintah daerah. Jika mereka kewalahan, baru pemerintah pusat turun tangan.
Ditjen Cipta Karya Departemen PU dalam waktu tujuh tahun telah menyiapkan 898 unit mobil tangki dari dana tanggap darurat dan mengalokasikan dana khusus untuk menghadapi kekeringan.
Departemen Pertanian sendiri belum lama ini mengungkapkan, areal persawahan yang diterpan kekeringan berdasarkan data kumulatif Januari-Juli 2008 mencapai 156.554 hektare dan 15.857 hektare puso.
Wilayah terparah akibat kekeringan adalah Provinsi Jawa Barat. Lahan pertanian seluas 78.277 hektare kesulitan air dan 10.000 hektare di antaranya sudah puso. Kabupaten Indramayu, Cirebon, Sukabumi, Cianjur, dan Bandung tak kuasa membendung datangnya kemarau yang membawa kekeringan.
Di Jawa Tengah, 24.400 hektare sawah kekeringan dengan 2.437 hektare puso. Berikutnya, di Banten (20.000 ha, puso 470 ha), Aceh (8.700 ha, puso 1.700 ha), Jawa Timur (8.400 ha, puso 760 ha), Sumatera Utara (8.200 ha, puso 70.000 ha), DI Yogyakarta (1.556 ha, puso 12 ha), Sulawesi Selatan (1.275 ha, puso 316 ha), dan Lampung (334 ha, puso 34 ha).
Sejumlah permukaan waduk terpantau pada kondisi waspada. Sebutlah Waduk Cirata dan Saguling di Jabar, Waduk Wonogiri di Jateng, Waduk Sermo di DIY, Waduk Sutami di Jatim, dan Waduk Bili-Bili di Sulsesl. Di Lampung, Waduk Batutegi malah sudah kering total.
Meski begitu, Hilman Manan selaku Direktur Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air Departemen Pertanian mengungkapkan bahwa dampak kekeringan kali ini masih di bawah rata-rata kekeringan lima tahun terakhir, yaitu mencakup 235.000 hektare lahan dengan gagal panen 45.000 hektare.
Ungkapan itu, meski berlandaskan data, tentu tidak boleh diartikan sebagai sikap yang mengabaikan musibah demi musibah yang selalu mengiringi datangnya pergantian musim. Sebab, ketika puso melanda banyak areal persawahan, bukan hanya petani yang menderita. Masyarakat luas pun terkena dampaknya.
Pergantian musim yang hanya dua jenis itu pasti terjadi saban tahun. Rutin. Karenanya, alangkah bijak jika dari waktu ke waktu negeri ini bisa terus mengurangi kadar musibah dengan cara mengantisipasinya secara bersama-sama.
Ini jelas prioritas. Pemerintah pusat dan daerah hendaknya bergandengan tangan. Bukan malah saling salah menyalahkan. Bangun segera kanal-kanal dan waduk untuk menampung air yang mengguyur ketika musim hujan tiba. Air itu pun berguna mengurangi dampak kekeringan ketika musim kemarau mampir.




News
Lifestyle
bernie ft nurinda ft eka agnestya

