Sections
Archive
| Su | Mo | Tu | We | Th | Fr | Sa | |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 2 | 3 | 4 | ||||
| 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | |
| 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | |
| 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | |
| 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | |||

wilayah perkotaan negara-negara maju maupun berkembang sebagian besar memiliki ciri-ciri gaya hidup seperti pemakaian kendaraan bermotor secara berlebihan, disertai dengan tingkat konsumsi yang tinggi terhadap barang-barang hasil industri. Gaya hidup ini adalah contoh pola hidup yang mengakibatkan adanya tuntutan penyediaan sumber energi, serta pemanfaatan sumberdaya alam dalam kapasitas yang besar/berlebihan. Dari pola hidup seperti inilah yang pada akhirnya membuat terakumulasinya zat-zat beracun (seperti karbon dioksida, nitrogen oksida dan lain-lain) di lapisan atmosfir bumi. Akumulasi zat beracun di atmosfir membentuk selubung transparan yang menyelimuti bumi yang dikenal dengan istilah gas rumah kaca. Inilah cikal bakal dari terjadinya perubahan iklim yang melanda seluruh kawasan dimuka bumi, baik di negara maju, berkembang maupun sedang berkembang. Fenomena perubahan iklim ini terjadi karena intensitas interaksi antara matahari dengan permukaan bumi tidak dapat berlangsung secara natural sebagaimana sebelum adanya selubung transparan tersebut.
Oleh karena perubahan iklim ini adalah persoalan global maka PBB memprakarsai dialog internasional yang diwujudkan dalam UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change) yang dicanangkan pada KTT Bumi di Rio de Janeiro tahun 1992 (Agenda 21). Hasil dari KTT berisikan 3 (tiga) tujuan pokok, yakni :
(1) tercapainya stabilitas konsentrasi emisi Gas Rumah Kaca pada tingkat yang aman ; (2) adanya tanggung jawab bersama sesuai kemampuan (common but differentiated responsibilities) dan (3) negara maju akan membantu negara berkembang (pendanaan, asuransi dan alih teknologi). Sebagai tindak lanjut dari konvensi tersebut maka dilaksanakanlah langkah konkrit untuk mencapai tujuan (1) yaitu dalam konvensi Protokol Kyoto (Desember 1997) telah ditetapkan target penurunan emisi total selama 5 tahun mulai 2008 hingga 2012 adalah sebesar 5% terhadap ambang emisi pada tahun 1990. Setiap negara industri penghasil emisi (Amerika Serikat, Canada, Uni Eropa dan lainnya) memiliki kewajiban penurunan prosentase emisi bervariasi antara 6 % hingga 8 %.
Dalam rangka mewujudkan tujuan (2) dan (3) maka UNFCCC telah menerbitkan buku dengan judul : Climate Change : Impact, Vulnerabilities and adaption in Developing Countries. Buku ini dimaksudkan sebagai panduan bagi negara berkembang dalam membuat rumusan tentang NAPA’s (National Adaptation Programme of Action). Di Indonesia langkah ini dicanangkan sebagai Rencana Aksi Nasional Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim (RAN MAPI) dikoordinasikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) yang merupakan gabungan dari seluruh sektor/Departemen.
DAMPAK PERUBAHAN IKLIM
Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan oleh para ahli lingkungan negara berkembang yang laporannya dihimpun oleh UNFCCC, dampak perubahan iklim yang akan melanda semua kawasan dimuka bumi ini, secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi 3 dampak utama yaitu : Kenaikan temperatur / suhu bumi, peningkatan frekuensi dan intensitas curah hujan, dan kejadian cuaca ekstrem.
Dampak peningkatan temperatur di Indonesia ditunjukkan dengan peningkatan temperatur rata-rata tahunan sebesar 0,3 derajat Celcius sejak tahun 1990 dan terjadi sepanjang musim dalam satu tahun. Dekade 90-an adalah decade terpanas dimana temperatur rata-rata di tahun 1998 meningkat sekitar 1 derajat Celcius (di atas rata-rata tahun 1961-1990).
Dampak peningkatan frekuensi dan intensitas curah hujan diprediksi mencapai 2%-3% per tahun di Indonesia. Peningkatan frekuensi dan intensitas curah hujan yang diperkirakan tetap berlanjut akan menyebabkan masa musim hujan yang lebih singkat (jumlah hari hujan tahunan berkurang), akibatnya terjadi peningkatan resiko banjir.
Dampak perubahan iklim yang ditandai dengan kejadian-kejadian ekstrim antara lain topan el Nino (1997) yang menyebabkan musim kemarau panjang sehingga merusak 426.000 hektar sawah. Selain itu perubahan iklim ekstrim ini akan menurunkan kesuburan tanah sekitar 2% sampai dengan 8%, yang berakibat kepada penurunan hasil panen yang dialami oleh sebagian besar daerah pertanian di Indonesia.
RENCANA AKSI NASIONAL – MITIGASI DAN ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM (RAN MAPI) BIDANG PEKERJAAN UMUM
REKOMENDASI TINDAKAN ADAPTASI OLEH UNFCCC
| BIDANG – BIDANG YG RAWAN TERHADAP PERUBAHAN IKLIM | ADAPTASI / PENYESUAIAN YG BERSIFAT REAKTIF | ADAPTASI / PENYESUAIAN YG BERSIFAT ANTISIPASI |
| PERTANIAN DAN KETAHANAN PANGAN | Pengendalian erosi | Pengembangan penelitian dan pengembangan bidang pertanian dan pangan. |
| Pembangunan waduk untuk irigasi
| Pengembangan tanaman tahan kekeringan, garam dan serangga. | |
| Merubah jenis dan pola pemakaian pupuk | Manajemen air dan tanah
| |
| Memperkenalkan tanaman baru
| Intensifikasi dan penganeka ragaman pangan dan tanaman pangan. | |
| Memelihara kesuburan tanah
| Kebijakan insentif pajak dan subsidi dan pasar bebas | |
| Merubah waktu dan pola tanam
| Pengembangan system peringatan dini bidang pertanian dan ketahanan pangan . | |
| Beralih ke jenis tanaman lain |
| |
| Pendidikan dan pencapaian program dalam konservasi dan manajemen air dan tanah |
| |
| KESEHATAN MANUSIA | Reformasi manajemen kesehatan masyarakat
| Menjadikan lebih baik dan atau memperbaiki pengawasan dan monitoring penyakit. |
| Memperbaiki kualitas permukiman dan penghidupan. | merubah desain kota dan permukiman. | |
| memperbaiki kualitas lingkungan | ||
| Memperbaiki daya tanggap darurat terhadap kesehatan
| membangun system peringatan dini bidang kesehatan | |
| EKOSISTEM DARATAN | Memperbaiki sistem manajemen yang meliputi kontrol terhadap penebangan hutan, penanaman dan penghutanan kembali. | Pembuatan taman/kawasan lindung dan koridor keanekaragaman hayati
|
| Promosi pengetahuan pertanian/pemeliharaan hutan untuk memperbaiki pelayanan dan hasil hutan | Identifikasi / pengembangan spesies tanaman yang tahan terhadap perubahan iklim
| |
| Pengembangan/perbaikan rencana nasional pengelolaan kebakaran hutan | Monitoring spesies tanaman dan hewan
| |
| Mengurangi jumlah timbunan karbon di hutan | Evaluasi/penilaian yang lebih baik terhadap kerawanan ekosistem | |
|
| Pengembangan dan pemeliharaan bank benih/bibit | |
|
| memasukkan factor social ekonomi dalam kebijakan pengelolaan ekosistem daratan | |
|
EKOSISTEM KAWASAN PESISIR DAN BAHARI
| Proteksi terhadap prasarana yang bersifat ekonomi (jalan, pelabuhan dll) | Manajemen terpadu kawasan pesisir
|
| kampanye public untuk meningkatkan perlindungan terhadap ekosistem pesisir dan bahari. | Perencanaan dan zonasi yang lebih baik untuk kawasan pesisir | |
| Membangun penahan gelombang dan pengaman pantai | Pembuatan undang-undang untuk perlindungan kawasan pesisir | |
| Perlindungan dan konservasi terumbu karang, bakau, rumput laut dan tanaman sepanjang pantai. | Penelitian dan monitoring ekosistem pantai dan pesisir. |
RENCANA AKSI ADAPTASI JANGKA PENDEK BIDANG PEKERJAAN UMUM
| PROGRAM AKSI | BIDANG PEKERJAAN UMUM | |||
| SDA | CIPTA KARYA | BINA MARGA | TATA RUANG | |
| ADAPTASI TERHADAP KERAWANAN SUMBER DAYA AIR | ||||
| PROTEKSI SUMBER DAYA AIR TANAH | Optimalisasi Jaringan Irigasi air tanah (JIAT) | Membuat pembatasan dan kampanye efisiensi penggunaan air tanah | X | Penetapan Neraca ketersediaan air tanah dalam RTRW Kabupaten dan Kota |
| MEMPERBAIKI MANAJEMEN DAN PEMELIHARAAN SYSTEM PENYEDIAAN AIR EKSISTING. | Bantuan teknis penyehatan manajemen PDAM | Evaluasi standard nasional kebutuhan air rumah tangga dan industri | X | X |
| PROTEKSI DAERAH RESAPAN AIR. | Meningkatkan daya dukung daerah aliran sungai (DAS) kritis dan di kawasan hulu sungai | Kampanye pembuatan resapan air hujan individual skala rumah tangga | X | Implementasi peraturan larangan membangun pada daerah resapan air yang dinyatakan dalam RTRW kabupaten dan kota. |
| MEMPERBAIKI PENYEDIAAN AIR
| Pembangunan baru dan pemeliharaan waduk sumber air baku | X | X | X |
| DIVERSIFIKASI SISTEM PENGAIRAN, AIR TANAH/IRIGASI DAN TADAH HUJAN SERTA DESALINASI AIR UNTUK HASIL PANEN | Diversifikasi sistem pengairan pada kawasan pertanian | X | X | X |
| ADAPTASI TERHADAP KERAWANAN PERTANIAN DAN KETAHANAN PANGAN | ||||
| PENGENDALIAN EROSI | Pembuatan bangunan penahan erosi pada waduk | X | X | Pemetaan kawasan rawan erosi secara nasional dalam RTRWN |
| PEMBANGUNAN WADUK UNTUK IRIGASI | Pembangunan waduk untuk irigasi | X | X | X |
| PENDIDIKAN DAN PENCAPAIAN PROGRAM DALAM KONSERVASI DAN MANAJEMEN AIR DAN TANAH | Pendidikan dan pelatihan dalam konservasi dan manajemen air dan tanah | X | X | X |
| ADAPTASI TERHADAP KERAWANAN KESEHATAN MANUSIA | ||||
| MEMPERBAIKI KUALITAS PERMUKIMAN DAN PENGHIDUPAN. | X | Memberikan bantuan PSD Perkim pada kawasan kumuh | X | X |
| ADAPTASI TERHADAP KERAWANAN EKOSISTEM KAWASAN PESISIR DAN BAHARI | ||||
| PROTEKSI TERHADAP PRASARANA YANG BERSIFAT EKONOMI (JALAN, PELABUHAN DLL) | X | X | Membuat bangunan pelindung jalan terhadap abrasi | X |
| MEMBANGUN PENAHAN GELOMBANG DAN PENGAMAN PANTAI | Membangun penahan gelombang dan pengaman pantai | X | X | X |




News
Lifestyle
bernie ft nurinda ft eka agnestya

